Tundra

Friendship, Hope and Human Being

Tundra : 4. Rully Thamrin

2 Comments

Jakarta, 2002

Jam 22.30 malam Minggu. Redi duduk-duduk di emperan pertokoan Sarinah. Ada beberapa orang yang duduk-duduk seperti itu. Duduk di anak tangga marmer, lalu memandangi mobil lewat, bajaj lewat atau taksi lewat. Bukan menghitung berapa banyak jumlahnya tetapi mencari tahu apakah wajah-wajah di dalam kendaraan yang lewat itu ceria, sedih, sedang melamun atau sedang sibuk melihat orang-orang yang sedang berlalu-lalang.

Redi tidak peduli apakah ada kenalan atau rekan kerja yang melihatnya duduk di sana. Duduk seperti orang yang sedang menunggu yang tidak jelas apa yang sedang ditunggu. Ternyata ada orang lain yang malah tertarik untuk mengetahui alasan Redi duduk di situ.

“Lagi menunggu siapa Mas?” tanya seorang pria sambil duduk di samping Redi.

“Lagi menunggu kawan,” jawab Redi pendek. Cuma itu. Dan Redi mengacuhkan pria itu dan kembali memandangi jalan raya.

Jam 23.30. Redi masih duduk di emperan itu. Beberapa orang juga masih betah duduk di sana. Dari gedung di depan terlihat beberapa pasangan keluar dari sebuah pub. Orang bule dengan pasangannya yang lebih pendek sibuk menyetop taksi. Sedangkan teman si bule sibuk menelepon dan teman si bule yang satu lagi sibuk bercengkerama dengan pasangannya. Di samping Redi duduk juga orang yang berpasangan. Mereka saling berdiam diri. Yang pria asyik merokok sedangkan yang wanita minum coca-cola. Sepertinya mereka mau nonton film midnight di bioskop yang ada di seberang jalan.

Seorang pria berjaket hitam yang berkerah bulu putih berjalan dari arah jalan raya. Dia baru turun dari sebuah taksi. Tak lama dia masuk ke bilik ATM sebuah bank. Beberapa menit kemudian dia keluar. Wajahnya menunjukkan suatu kekecewaan. Dia lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya satu batang. Sambil berdiri menghadap jalan raya dia asyik merokok. Sorot matanya tajam. Sesekali dia melihat jam tangannya.

Jam 24.00 tengah malam. Restoran cepat saji di pojok simpang jalan ini makin ramai saja. Makin malam makin penuh dengan rombongan-rombongan yang terdiri dari dua atau lebih, silih berganti keluar masuk restoran. Ada suatu pesta kecil-kecilan di salah satu meja. Penuh makanan di atas meja kecil. Ada milk shake 4 gelas besar, ayam goreng, kentang goreng, coca-cola dan beberapa hamburger. Orangnya cuma 5. Yang duduk di tengah posturnya agak gemuk. Mulutnya sibuk mengunyah. Empat pria dan satu wanita. Salah seorang pria sibuk memencet tombol HP. Sekali-kali mereka tertawa gembira. Bahagia sekali. Mungkin salah satu dari mereka ulang tahun atau baru diterima bekerja dan sedang berbagi kenikmatan gaji pertama.

Jam 00.30 pagi. Suasana jalan raya tidak begitu ramai. Yang banyak berseliweran taksi dan omprengan. Terdengar raungan sirine ambulan. Sebuah ambulan melaju kencang dari arah Kota. Sepertinya ada orang yang sedang sekarat atau baru saja mengalami kecelakaan parah. Setelah ambulan itu lewat suasana jalan kembali sepi. sesekali terdengar suara bajaj yang sedang diengkol. Berisik sekali.

Redi merasa lapar juga. Dingin mulai menyergap lambungnya. Redi lalu beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju warung kaki lima di pinggir jalan. Ketika Redi masuk ternyata bangku panjang terisi penuh. Sebagian besar yang duduk di sana laki-laki. Untung saja di sudut warung ada sebuah bangku kosong. Redi lalu duduk di sana, di sebelah pria yang berjaket hitam yang tadi dilihatnya.

“Mau makan apa Mas?” tanya ibu penjaga warung.

“Indomie, telornya setengah matang Bu.”

“Minumnya apa?”

“Teh manis anget.”

Sambil menunggu pesanan Redi melihat-lihat ke luar warung tenda itu. Pria berjaket hitam itu juga sedang menunggu pesanannya. Ia mengeluarkan bungkus rokoknya. lalu menoleh kepada Redi.

“Merokok?” tawarnya sambil menyodorkan bungkus rokok yang beberapa batang rokok menyembul keluar.

“Terima kasih, saya nggak merokok lagi,” ujar Redi menolak secara halus.

“Baguslah kalau begitu,” ujar si pria sambil menyulut batang rokok yang sudah ada di mulutnya.

Ternyata si pria memesan roti bakar. Pesanannya sudah siap dan sekarang sudah terhidang di hadapannya.

“Duluan.”

“Yap, silahkan,” ujar Redi.

Tak lama pesanan Redi sudah siap. Redi lalu menyantapnya dengan lahap seperti orang yang sudah dua hari tidak makan, walau diselingi pekerjaan meniup-niup makanan yang masih panas. Si pria berjaket hitam sudah selesai makan. Lalu ia merokok kembali.

“Berapa Bu?” si pria berjaket hitam berdiri sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.

“Delapan ribu Mas, oalah besar banget uangnya. Uang kecil saja Mas!” teriak si ibu seperti orangkesambar petir saja.

“Nggak ada Bu,” ujar si pria.

“Nih, saya tukerin,” ujar Redi sambil menyodorkan dua lembar uang dua puluh ribu dan selembar uang sepuluh ribu.

“Makasih Mas,” ujar si ibu.

“Yuk, duluan. Kayaknya temanku udah datang tuh,” pamit si pria berjaket hitam sambil berjalan keluar warung. Redi mengangguk. Mulutnya masih penuh makanan. 

Si pria berjaket hitam berjalan ke dekat mesin ATM itu kembali. Ada pemuda sebayanya berdiri di sana. Mereka berbincang sejenak dan tiba-tiba si pria berjaket hitam memukul pemuda itu. Pemuda itu berteriak. Orang-orang menonton dari kejauhan. Untung saja ada seorang tukang parkir dan seorang supir taksi buru-buru menengahi. Dari mulut si pemuda keluar sedikit darah yang mengalir lewat pinggir bibir.

Redi kaget melihat kejadian itu dari warung. Si ibu penjaga warung juga kaget.

“Eh, itu bukannya mas-mas yang makan tadi?” ujarnya cemas. Entah apa yang dicemaskannya.

Redi buru-buru membayar pesanannya dan berjalan cepat ke lokasi kejadian.

“Loe jangan bohongin gue lagi ya, awas!” ancam si pria berjaket hitam sambil menunjuk muka si pemuda yang memelas. Orang mulai berkerumun menonton.

“Ada apa Mas?” tanya Redi kepada seorang penonton.

“Tau tuh, biasalah. Anak muda,” jawab orang itu acuh tak acuh.

“Udah, bubar-bubar!” teriak seorang Satpam. Orang-orang yang berkerumun satu persatu membubarkan diri.

“Ganteng juga ya, yang pake jaket,” celetuk seorang cewek yang memakai baju kaos ketat.

“Dasar loe, liat cowok ganteng aja langsung komen,” ujar temannya.

Langit malam yang tadi cerah berubah agak mendung. Angin bertiup kencang melewati lorong-lorong gedung bertingkat. Dingin menusuk tulang. Sampah-sampah kecil bertebaran di halaman parkir berseliweran ditiup angin. Redi kembali duduk di tangga marmer. Jam satu dinihari. Suasana jalan raya masih cukup ramai. Orang-orang yang duduk di tangga marmer juga masih banyak, termasuk pasangan yang Redi lihat tadi. Si pria berjaket hitam duduk di samping mereka. Redi kembali sibuk menikmati pemandangan jalan raya. Kerlap-kerlip lampu jalan menambah indah kota. Namun keindahan itu tidak berlangsung lama. Angin bertiup makin kencang disertai derai air hujan yang mulai turun. Hampir serentak orang-orang yang duduk di tangga marmer berdiri dan mencari tempat yang teduh. Redi berdiri dekat si pria berjaket hitam. Ia tersenyum. Redi membalasnya. Lalu kembali berdiam diri lagi. Hujan yang turun makin deras. Dingin juga.

“Kayaknya lama nih berhentinya,” ujar si pria berjaket hitam pada Redi.

Redi cuma mengangguk. Agak menggigil badannya. Si pria berjaket hitam mengeluarkan bungkus rokoknya dan mennyulutnya sebatang.  Asap rokok berterbangan di udara dan berseliweran di mukanya sejenak setelah itu menghilang dibawa angin. Redi melihat jam tangannya. Pukul 01.00 dinihari. Pengunjung restoran cepat saji masih ramai. Beberapa orang yang kehujanan memasuki restoran sehingga membuat restoran makin ramai saja. Redi berpikiran untuk masuk juga. Daripada bengong menunggu hujan reda, mendingan duduk di restoran. Redi lalu masuk dan segera antri untuk memesan makanan. Antriannya tidak begitu panjang, ada empat orang di depannya. Sambil antri Redi mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang sedang duduk. Siapa tahu ada orang yang dikenalnya. Dari sekian banyak orang ternyata satupun tidak ada yang dikenalnya. Redi juga mencari tempat duduk yang kosong, biasanya ada beberapa kursi untuk pengunjung yang sendiri. Ternyata kursi untuk sendiri juga penuh.

(bersambung)

2 thoughts on “Tundra : 4. Rully Thamrin

  1. Rully taahun 2002 kok masuk categori 80’s?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s