Tundra

Friendship, Hope and Human Being

Tundra : 3. Arnifah Sulaiman

Leave a comment

Jakarta, 1985

Hari Rabu. Arnifah berjalan santai memasuki halaman sekolah. Ia sengaja datang pagi-pagi agar tidak terlambat. Hari ini hari ketiga ia bersekolah di sini. Sebelumnya ia sekolah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia pindah ke Jakarta ikut ayahnya yang pindah tugas. Waktu pertama masuk Senin kemarin ia diantar ayahnya naik mobil. Setelah itu Arnifah menolak untuk diantar lagi besoknya dan lebih memilih naik bus kota.

Suasana sekolah masih sepi. Arnifah langsung masuk ke kelasnya yang terletak di lantai 2, kelas Id. Ternyata ada seorang siswa cowok yang sedang menulis di bangku nomor dua dari belakang deretan pertama dari kanan. Arnifah berjalan menuju tempat duduknya yang berada di bangku nomor dua dari depan deretan kedua dari kanan.

Ketika menyadari ada yang masuk kelas, siswa cowok itu mengangkat kepalanya dan berhenti menulis. Ia tersenyum pada Arnifah. Arnifah membalasnya, lalu duduk di bangkunya sambil menghadap ke arah siswa cowok itu.

“Ada PR apa ……..?” tanya Arnifah dengan kalimat menggantung. Ia tidak tahu nama siswa cowok itu.

“Redi, nama gue Redi Satria,” ujar Redi memperkenalkan diri.

“Arnifah ‘kan,” ujar Redi lagi. Arnifah mengangguk.

“Nggak ada PR, cuma menyalin catatan Fisika,” sambung Redi lagi.

“Datangnya kok pagi-pagi sekali. Rumahnya jauh ya?” tanya Redi melanjutkan pembicaraan.

“Rumah gue di Fatmawati, takut terlambat aja makanya cepat-cepat datang. Siswa baru sih,” jawab Arnifah sekenanya.

Redi tersenyum geli mendengar jawaban Arnifah. Tak lama beberapa siswa mulai memasuki kelas. Tanti, teman sebangku Arnifah juga sudah datang. Begitu dia meletakkan tasnya, dia lalu mengajak Arnifah ke kantin untuk sarapan.

*****

Hari Sabtu. Pelajaran terakhir, Matematika, baru saja usai. Arnifah mengemasi buku-bukunya. Tadi ia punya rencana pulang sekolah akan ke toko buku bersama Tanti dan temannya, Rien, anak kelas Ie.

Di bagian belakang tiba-tiba ada kegaduhan. Beberapa siswa cowok mengelilingi bangku Redi dan menyalami Redi.

“Ada apa Tan, ada yang ulang tahun?” tanya Arnifah pada Tanti.

“Nggak. Redi mau pindah sekolah ke Medan. Ini hari terakhir dia sekolah di sini,” jawab Tanti. Arnifah tertegun sejenak.

“Eh, ayo buruan. Katanya mau ke toko buku, aku mau ke kelas sebelah, nyamperin Rien dulu ya,” ujar Tanti.

Arnifah mengangguk. Ia lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Tak lama Redi dan beberapa siswa cowok gangnya lewat di dekat bangku Arnifah. Redi menyalami beberapa siswa lain. Arnifahpun disalaminya.

“Maafkan bila ada kelakuan atau kata-kata gue yang salah ya,” ujarnya.

“Sama-sama,” ujar Arnifah lirih dan tersenyum. Padahal perasaannya sangat sedih.

Setelah menyalami Arnifah, Redi menemui beberapa siswa lain yang masih ada di kelas.

Arnifah lalu keluar kelas dan menunggu Tanti dekat tangga. Tak lama Redi keluar diikuti anggota gangnya. Redi kelihatan gembira dan tersenyum terus. Ketika melihat Arnifah dekat tangga, sekali lagi Redi tersenyum pada Arnifah. Arnifah membalasnya. Redi lalu menuruni tangga diiringi rekan-rekannya. Mungkin mereka mau mengadakan acara perpisahan. Arnifah memandang terus rombongan Redi sampai akhirnya mereka menghilang setelah melewati pintu gerbang sekolah.

“Sorry Ar, kelamaan ya nunggunya,” suara Tanti mengusik lamunan Arnifah.

“Nggak apa-apa, yok, kita berangkat sekarang,” seru Arnifah.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s