Tundra

Friendship, Hope and Human Being

Tundra : 2. Harli Jatmiko

Leave a comment

Medan, 1985

Harli sibuk menyiapkan buku-bukunya. Sebentar lagi ia mau berangkat bimbingan tes. Dari stasiun radio kesayangannya terdengar lagu “Maniac” Michael Sembello yang membuat dirinya bersemangat.

Tiba-tiba telepon berbunyi dari ruang tengah. Dengan tergesa-gesa Harli keluar kamar dan langsung mengangkatnya.

“Hallo Harli, kau masuk hari ini,” terdengar suara Taufik.

“Masuk, kau sendiri gimana?” tanya Harli.

“Nggak masuk, malas ‘kali aku. Absen dulu lah. Eh, nanti liburan semester kita jadi naik gunung?” tanya Taufik.

“Jadi, gunung Sinabung ‘kan. Atur sajalah, kau kan pecinta alam sejati,” ujar Harli.

****

Harli bersama gangnya mendirikan tenda di antara beberapa tenda yang mulai menyemarakkan daerah perkemahan di dekat danau Lau Kawar di bawah kaki gunung Sinabung. Dekat perkemahan ada juga sebuah warung kopi.

Malam pertama mereka berkemah hujan turun lebat sekali. Harli dan beberapa rekannya langsung menuju warung. Selain untuk makan, juga main catur dan main gitar. Di warung suasananya penuh sesak. Banyak juga orang yang tidur di lantai. Malah ada yang sampai tidur di bawah meja segala.

Keesokkan harinya Harli dan rekan-rekannya naik gunung di pagi hari. Pendakian awal memang agak sulit. Mereka naik memakai tali. Setelah itu mereka menemukan jalan setapak yang mempermudah pendakian. Beberapa kali Harli berpapasan dengan orang-orang yang baru turun. Mungkin mereka naik gunung subuh-subuh atau malam hari. Atau naik gunung sore hari dan bermalam di puncak gunung. Dari orang yang baru turun itu ada yang menyanyikan lagu “Tarzan Boy” Baltimora.

Sampai di puncak gunung hari sudah beranjak siang. Dari puncak gunung terlihat Danau Toba. Bau belerang tercium culup tajam. Harli merasa kehausan. Botol minuman yang dibawanya tadi sudah kosong. Sepanjang perjalanan ada saja rekannya yang minta minum. Lama-lama habis juga. Harli melihat beberapa orang sedang mengumpulkan embun-embun yang ada di tumbuhan di sekitar puncak gunung. Ia lalu ikut juga mengumpulkan embun-embun itu dan menampungnya di sebuah kantung plastik kecil. Setelah beberapa lama ada sedikit air yang terkumpul. Ia lalu meminumnya seteguk. Lalu Harli menawarkan air itu pada orang yang sedang mencari embun di sebelahnya. Orang itu menerimanya. Setelah meminumnya, orang itu memberikan Harli sekantung kecil biskuit.

“Dari SMA mana?” tanya Harli.

“SMA 8,” jawab orang itu.

“Aku dari SMA 6, Harli,” Harli memperkenalkan diri.

“Redi,” balas orang itu.

Ketika turun gunung rombongan Harli bertemu lagi dengan rombongan Redi. Selama perjalan turun Harli dan Redi asyik mengobrol. Harli suka juga lagu “Tarzan Boy” Baltimora, beberapa kali dia menyanyikan lagu itu. Bagus juga suaranya.

Malam hari Harli makan malam di warung. Kawan-kawannya ada yang masak mie instant di dekat tenda mereka. Cuma karena merasa lapar sekali Harli memutuskan untuk makan di warung. Seperti biasanya warung ramai sekali. Beberapa orang sedang bernyanyi diiringi suara gitar. Sebetulnya pemilik warung sering memutarkan lagu-lagu dari tape recorder-nya. Paling sering terdengar lagu penyanyi Jepang yang lagi hits “Kokoro No Tomo”.

Selesai makan Harli tidak langsung balik ke tenda. Ia duduk menonton orang-orang yang sedang main catur.

Ketika dilihatnya Redi sedang membeli rokok, Harli langsung mendekatinya. Redi memakai jaket tebal.

“Dingin sekali ya,” ujar Redi.

“Iya, aku kelupaan bawa jaket,” ujar Harli.

“Aku punya dua, kau boleh pakai satu yang satu lagi. Nanti kita ambil ke tendaku,” ujar Redi sambil membuka bungkus rokok dan mengambilnya sebatang. Lalu ia menyalakan dan mengisapnya.

“Yuk, kita ambil sekarang,” ujar Redi. Harli mengikuti langkah Redi. Suasana agak gelap. Untung saja Redi membawa senter kecil. Di tenda Redi, beberapa rekannya ada yang sudah tidur dan ada pula yang sedang masak mie instant sambil mengobrol. Redi mengambil jaketnya dan memberikan pada Harli. Harli langsung memakainya. Mereka lalu bergabung dengan rekan-rekan Redi yang sedang masak mie instant.

“Ada air panas nggak?” tanya Redi.

“Ada, tuh di termos, mau bikin kopi?” tanya salah seorang rekan Redi.

“Mau Har?” tanya Redi pada Harli.

“Boleh, untuk menghangatkan badan,” jawab Harli.

Setelah mengobrol dengan Redi dan rekannya, Harli balik ke tendanya. Jaket Redi sangat membantu sekali. Harli bisa tidur nyenyak sekarang.

*****

Medan, 1988

Tampang Harli sekilas mirip Charlie Sheen, aktor muda Hollywood. Redi sering memanggilnya Charlie. Cuma kalau Harli kulitnya sawo matang. Sejak pulang dari Lau Kawar Redi dan Harli sering bertemu dan pergi bersama. Hanya karena kesibukan masing-masing mereka sekarang jarang bertemu. Apalagi saat ini, menjelang ujian akhir sekolah dan menghadapi Sipenmaru. Harli sibuk dengan bimbingan tesnya.

Hari ini hari pertama ujian Sipenmaru. Harli satu rayon dengan Dion, teman sekelasnya di SMA. Mereka berdua datang pagi-pagi ke lokasi ujian di SMAN 8. Harli teringat pada Redi. Ini sekolahnya Redi. Sambil menunggu ujian dimulai Harli duduk-duduk di pinggir jalan berkumpul dengan beberapa orang peserta ujian dari berbagai sekolah.

Hari pertama ujian, Harli lalui dengan lancar. Pada hari kedua ujian mulai sulit. Harli sampai putar otak memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Selesai ujian Harli langsung keluar dan mencari Dion di ruang kelas sebelah. Setelah bertemu Dion, mereka lalu keluar sekolah dan berjalan menuju tempat naik sudaco.

“Bagaimana Har, isi semua nggak?” tanya Dion.

“Isi sih isi, benar nggaknya sih nggak tau,” jawab Harli.

“Jadi nggak yakin nih, berani nggak kau menyobek  kartu ujian kau,” tantang Dion.

“Nggak,” jawab Harli.

“Woi Harli, Dion!” teriak beberapa orang yang berjalan berombongan di belakang mereka. Harli dan Dion membalikkan badan. Ternyata orang-orang itu rekan sekolah mereka.

“Pasrah, pasrah. Nggak lulus!” seru Harli sambil menyobek brosur-brosur dan melemparkannya ke udara.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s