Tundra

Friendship, Hope and Human Being

Tundra : 1. Fardin Hidayat

Leave a comment

Medan, 1985

Terminal Sambu. Suatu Sabtu siang yang terik dan sudaco-sudaco yang berseliweran disertai asap knalpot yang menderu-deru. Rombongan murid SLTA pulang dan pergi mewarnai suasana terminal. Banyak juga murid sekolah yang nongkrong di emperan toko.

Termasuk Fardin, siswa STM yang berpenampilan sedikit urakan. Lengan baju dilipat, kerah baju dilepas, potongan rambut mirip rambut penyanyi Duran-Duran. Duduk-duduk dulu di terminal sebelum ke sekolahnya yang memang tidak begitu jauh dari terminal. Ia berkumpul bersama rekan-rekannya sambil melihat orang-orang yang lewat. Kadangkala bila mereka melihat rombongan siswi SMEA atau SMA yang lewat, terdengarlah suara-suara menggoda. Fardin ke sekolah tanpa membawa tas, hanya beberapa buku yang diselipkan di baju bagian belakang. Biasanya bila melihat ada rekannya yang membawa tas, bukunya dititipkannya.

Walaupun Fardin dan rekannya sering iseng menggoda orang lewat tidak sekalipun mereka terlibat tawuran dengan anak sekolah lain. Malah ada beberapa anak sekolah lain yang menjadi teman nongkrong mereka.

Fardin sedang duduk sambil merokok. Seorang siswa SMA berjalan mendekatinya. Penampilannya lumayan rapi.

“Bisa minta apinya?” tanya anak itu.

Fardin melihat anak itu dan memberikan rokoknya.

“Sekolah dimana?” tanya Fardin

“SMA 8,” jawab anak itu.

“Aku di STM 2,” ujar Fardin.

“Aku baru pindah ke sini, dulu tinggal di Jakarta,” ujar anak itu lagi sambil menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dikeluarkannya perlahan-lahan.

“Dulu sekolahku dekat terminal, sekarang juga nggak begitu jauh dari terminal,” lanjut anak itu sambil tertawa. Fardin ikut tertawa.

“Oh, iya, aku Fardin!”

“Redi!” 

Sejak perkenalan itu Fardin menjadi teman Redi. Bila Redi melihat Fardin dan rekan-rekannya sedang berkumpul, ia ikut bergabung sebentar.

Kebiasaan Fardin nongkrong di terminal sudah diketahui oleh bapaknya yang galak. Di suatu Minggu ketika Fardin sibuk mengutak-atik sepeda motornya, bapaknya yang sedang asyik membaca koran di teras rumah, tiba-tiba marah-marah.

“Kau bolos sekolah ya kemarin?” tanyanya.

“Siapa bilang, masuk kok Pak,” jawab Fardin.

“Gurumu pak Ahmad itu kawan Bapak, kemarin malam dia cerita kau nggak masuk,”

“Kemarin terlambat sih Pak, makanya nggak masuk,”

“Terlambat, terlambat. Masak terlambat sampai sepuluh orang, mau jadi apa kau nanti, bolos melulu. Mau jadi preman Sambu!”

Setelah puas kena dampratan bapaknya, Fardin pergi ke rumah Redi naik sepeda motor. Pada hari Kamis kemarin mereka janjian untuk mencari kaset di City Plaza, sekalian nonton film. Referensi musik Redi lumayan banyak sehingga Fardin mengajaknya untuk menemani mencari lagu-lagu yang sedang hits di radio.

Redi dan Fardin sudah sampai di City Plaza, jalan Surabaya. Suasana Plaza cukup ramai. Ketika mereka masuk ke Plaza, terdengar lagu “I Can not Believe It’s True” Phil Collins.

Mereka lalu naik eskalator ke lantai 2.

“Aku suka Phil Collins,” ujar Redi.

“Aku juga, eh kalau di Jakarta beli kaset yang lengkap dimana?” tanya Fardin.

“Biasanya aku ke Duta Suara jalan Sabang. Di sana koleksi kasetnya lumayan lengkap,” jawab Redi.

Di toko kaset, Fardin sibuk mencari kaset-kaset penyanyi kesukaannya. Selain Genesis dia suka Def Leppard, Black Sabath dan Toto. Rata-rata lagu rock. Redi mengajukan beberapa grup musik yang kira-kira sesuai selera Fardin.

“Duran-Duran suka nggak?” tanya Redi.

“Suka, saking ngefansnya gaya rambut Roger Taylor aku tiru, walaupun sikit. Keren nggak,” ujar Fardin.

Sementara itu berganti-ganti terdengar lagu Madonna, Cyndi Lauper dan Nina. Sekarang lagi ngetrend lagu-lagu pop dance dan new wave.

“Kalau aku sukanya lagu-lagu New Wave kayak Johnny Hate Jazz, Gazebo, Wham!” ujar Redi.

“Jadi nggak kita nonton, James Bond baru tuh, A View to a Kill,” tanya Fardin.

“Oke, habis nonton kita jalan-kalan keliling kota Medan ya,” ujar Redi.

“Bereslah!” seru Fardin.

Pulang nonton film, Fardin mengajak Redi jalan-jalan naik sepeda motornya. Mula-mula ke Mesjid Raya sekalian shalat, lalu ke Kolam Raja, terus menuju daerah Simpang Limun. Di jalan Brigjen Katamso mereka berhenti di depan Kebun Binatang Kampung Baru. Suasana sangat ramai sekali.

“Ramai juga ya bonbin di sini. Kalau di Jakarta sih ada juga Ragunan. Cuma aku sekali ke sana. Banyak orang pacaran,” ujar Redi sambil tertawa geli.

“Kau sudah punya pacar di Jakarta?” tanya Fardin.

“Belum sih,” jawab Redi.

“Biasanya anak SMA sana pacaran udah biasa,” celetuk Fardin.

“Ada sih yang aku taksir, dia murid baru pindahan dari daerah. Eh, baru sekali ngobrol sama dia, akunya yang malah pindah ikut bapakku pindah kerja ke sini,” jawab Redi sambil termenung.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s