Tundra

Friendship, Hope and Human Being


2 Comments

History and Sport Travelling in England

Waktu kuliah dulu tahun 90-an saya paling suka mengunjungi British Council di Jakarta yang terletak di gedung S. Wijoyo Center di Jl. Sudirman seberang Stadion Gelora Bung Karno Senayan. Kegiatan yang paling sering saya lakukan di sana adalah membaca koran The Time dan menonton video film atau dokumenter. Selain itu saya juga mencari informasi mengenai kuliah dan beasiswa di Inggris, siapa tahu ada peluang untuk pergi kuliah ke Inggris.

Pergi ke Inggris selain ingin kuliah juga ingin jalan-jalan ke tempat yang bersejarah di sana. Jalan-jalan sambil merasakan dinginnya hujan seperti yang saya lihat di film detektif Hercules Poirot, menyusuri pelabuhan Southampton tempat kapal RMS Titanic mulai berangkat pada tanggal 10 April 1912, mengunjungi kota Coventry yang pada malam 14 November 1940 sampai pagi 15 November 1940 dihujani lebih 400 bom oleh pesawat Jerman atau jalan-jalan ke Sherwood Forest di kota Nottingham tempat legenda Robin Hood.

Selain itu sekarang saya ingin juga jalan-jalan ke London mengunjungi stadion Boleyn Ground markas West Ham United tim favorit saya di Liga Inggris dan mengikuti ajang London Marathon yang rutenya melewati tempat-tempat bersejarah di London.

22052014(003)


2 Comments

Tundra : 4. Rully Thamrin

Jakarta, 2002

Jam 22.30 malam Minggu. Redi duduk-duduk di emperan pertokoan Sarinah. Ada beberapa orang yang duduk-duduk seperti itu. Duduk di anak tangga marmer, lalu memandangi mobil lewat, bajaj lewat atau taksi lewat. Bukan menghitung berapa banyak jumlahnya tetapi mencari tahu apakah wajah-wajah di dalam kendaraan yang lewat itu ceria, sedih, sedang melamun atau sedang sibuk melihat orang-orang yang sedang berlalu-lalang.

Redi tidak peduli apakah ada kenalan atau rekan kerja yang melihatnya duduk di sana. Duduk seperti orang yang sedang menunggu yang tidak jelas apa yang sedang ditunggu. Ternyata ada orang lain yang malah tertarik untuk mengetahui alasan Redi duduk di situ.

“Lagi menunggu siapa Mas?” tanya seorang pria sambil duduk di samping Redi.

“Lagi menunggu kawan,” jawab Redi pendek. Cuma itu. Dan Redi mengacuhkan pria itu dan kembali memandangi jalan raya.

Jam 23.30. Redi masih duduk di emperan itu. Beberapa orang juga masih betah duduk di sana. Dari gedung di depan terlihat beberapa pasangan keluar dari sebuah pub. Orang bule dengan pasangannya yang lebih pendek sibuk menyetop taksi. Sedangkan teman si bule sibuk menelepon dan teman si bule yang satu lagi sibuk bercengkerama dengan pasangannya. Di samping Redi duduk juga orang yang berpasangan. Mereka saling berdiam diri. Yang pria asyik merokok sedangkan yang wanita minum coca-cola. Sepertinya mereka mau nonton film midnight di bioskop yang ada di seberang jalan.

Seorang pria berjaket hitam yang berkerah bulu putih berjalan dari arah jalan raya. Dia baru turun dari sebuah taksi. Tak lama dia masuk ke bilik ATM sebuah bank. Beberapa menit kemudian dia keluar. Wajahnya menunjukkan suatu kekecewaan. Dia lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya satu batang. Sambil berdiri menghadap jalan raya dia asyik merokok. Sorot matanya tajam. Sesekali dia melihat jam tangannya.

Jam 24.00 tengah malam. Restoran cepat saji di pojok simpang jalan ini makin ramai saja. Makin malam makin penuh dengan rombongan-rombongan yang terdiri dari dua atau lebih, silih berganti keluar masuk restoran. Ada suatu pesta kecil-kecilan di salah satu meja. Penuh makanan di atas meja kecil. Ada milk shake 4 gelas besar, ayam goreng, kentang goreng, coca-cola dan beberapa hamburger. Orangnya cuma 5. Yang duduk di tengah posturnya agak gemuk. Mulutnya sibuk mengunyah. Empat pria dan satu wanita. Salah seorang pria sibuk memencet tombol HP. Sekali-kali mereka tertawa gembira. Bahagia sekali. Mungkin salah satu dari mereka ulang tahun atau baru diterima bekerja dan sedang berbagi kenikmatan gaji pertama.

Jam 00.30 pagi. Suasana jalan raya tidak begitu ramai. Yang banyak berseliweran taksi dan omprengan. Terdengar raungan sirine ambulan. Sebuah ambulan melaju kencang dari arah Kota. Sepertinya ada orang yang sedang sekarat atau baru saja mengalami kecelakaan parah. Setelah ambulan itu lewat suasana jalan kembali sepi. sesekali terdengar suara bajaj yang sedang diengkol. Berisik sekali.

Redi merasa lapar juga. Dingin mulai menyergap lambungnya. Redi lalu beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju warung kaki lima di pinggir jalan. Ketika Redi masuk ternyata bangku panjang terisi penuh. Sebagian besar yang duduk di sana laki-laki. Untung saja di sudut warung ada sebuah bangku kosong. Redi lalu duduk di sana, di sebelah pria yang berjaket hitam yang tadi dilihatnya.

“Mau makan apa Mas?” tanya ibu penjaga warung.

“Indomie, telornya setengah matang Bu.”

“Minumnya apa?”

“Teh manis anget.”

Sambil menunggu pesanan Redi melihat-lihat ke luar warung tenda itu. Pria berjaket hitam itu juga sedang menunggu pesanannya. Ia mengeluarkan bungkus rokoknya. lalu menoleh kepada Redi.

“Merokok?” tawarnya sambil menyodorkan bungkus rokok yang beberapa batang rokok menyembul keluar.

“Terima kasih, saya nggak merokok lagi,” ujar Redi menolak secara halus.

“Baguslah kalau begitu,” ujar si pria sambil menyulut batang rokok yang sudah ada di mulutnya.

Ternyata si pria memesan roti bakar. Pesanannya sudah siap dan sekarang sudah terhidang di hadapannya.

“Duluan.”

“Yap, silahkan,” ujar Redi.

Tak lama pesanan Redi sudah siap. Redi lalu menyantapnya dengan lahap seperti orang yang sudah dua hari tidak makan, walau diselingi pekerjaan meniup-niup makanan yang masih panas. Si pria berjaket hitam sudah selesai makan. Lalu ia merokok kembali.

“Berapa Bu?” si pria berjaket hitam berdiri sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.

“Delapan ribu Mas, oalah besar banget uangnya. Uang kecil saja Mas!” teriak si ibu seperti orangkesambar petir saja.

“Nggak ada Bu,” ujar si pria.

“Nih, saya tukerin,” ujar Redi sambil menyodorkan dua lembar uang dua puluh ribu dan selembar uang sepuluh ribu.

“Makasih Mas,” ujar si ibu.

“Yuk, duluan. Kayaknya temanku udah datang tuh,” pamit si pria berjaket hitam sambil berjalan keluar warung. Redi mengangguk. Mulutnya masih penuh makanan. 

Si pria berjaket hitam berjalan ke dekat mesin ATM itu kembali. Ada pemuda sebayanya berdiri di sana. Mereka berbincang sejenak dan tiba-tiba si pria berjaket hitam memukul pemuda itu. Pemuda itu berteriak. Orang-orang menonton dari kejauhan. Untung saja ada seorang tukang parkir dan seorang supir taksi buru-buru menengahi. Dari mulut si pemuda keluar sedikit darah yang mengalir lewat pinggir bibir.

Redi kaget melihat kejadian itu dari warung. Si ibu penjaga warung juga kaget.

“Eh, itu bukannya mas-mas yang makan tadi?” ujarnya cemas. Entah apa yang dicemaskannya.

Redi buru-buru membayar pesanannya dan berjalan cepat ke lokasi kejadian.

“Loe jangan bohongin gue lagi ya, awas!” ancam si pria berjaket hitam sambil menunjuk muka si pemuda yang memelas. Orang mulai berkerumun menonton.

“Ada apa Mas?” tanya Redi kepada seorang penonton.

“Tau tuh, biasalah. Anak muda,” jawab orang itu acuh tak acuh.

“Udah, bubar-bubar!” teriak seorang Satpam. Orang-orang yang berkerumun satu persatu membubarkan diri.

“Ganteng juga ya, yang pake jaket,” celetuk seorang cewek yang memakai baju kaos ketat.

“Dasar loe, liat cowok ganteng aja langsung komen,” ujar temannya.

Langit malam yang tadi cerah berubah agak mendung. Angin bertiup kencang melewati lorong-lorong gedung bertingkat. Dingin menusuk tulang. Sampah-sampah kecil bertebaran di halaman parkir berseliweran ditiup angin. Redi kembali duduk di tangga marmer. Jam satu dinihari. Suasana jalan raya masih cukup ramai. Orang-orang yang duduk di tangga marmer juga masih banyak, termasuk pasangan yang Redi lihat tadi. Si pria berjaket hitam duduk di samping mereka. Redi kembali sibuk menikmati pemandangan jalan raya. Kerlap-kerlip lampu jalan menambah indah kota. Namun keindahan itu tidak berlangsung lama. Angin bertiup makin kencang disertai derai air hujan yang mulai turun. Hampir serentak orang-orang yang duduk di tangga marmer berdiri dan mencari tempat yang teduh. Redi berdiri dekat si pria berjaket hitam. Ia tersenyum. Redi membalasnya. Lalu kembali berdiam diri lagi. Hujan yang turun makin deras. Dingin juga.

“Kayaknya lama nih berhentinya,” ujar si pria berjaket hitam pada Redi.

Redi cuma mengangguk. Agak menggigil badannya. Si pria berjaket hitam mengeluarkan bungkus rokoknya dan mennyulutnya sebatang.  Asap rokok berterbangan di udara dan berseliweran di mukanya sejenak setelah itu menghilang dibawa angin. Redi melihat jam tangannya. Pukul 01.00 dinihari. Pengunjung restoran cepat saji masih ramai. Beberapa orang yang kehujanan memasuki restoran sehingga membuat restoran makin ramai saja. Redi berpikiran untuk masuk juga. Daripada bengong menunggu hujan reda, mendingan duduk di restoran. Redi lalu masuk dan segera antri untuk memesan makanan. Antriannya tidak begitu panjang, ada empat orang di depannya. Sambil antri Redi mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang sedang duduk. Siapa tahu ada orang yang dikenalnya. Dari sekian banyak orang ternyata satupun tidak ada yang dikenalnya. Redi juga mencari tempat duduk yang kosong, biasanya ada beberapa kursi untuk pengunjung yang sendiri. Ternyata kursi untuk sendiri juga penuh.

(bersambung)


Leave a comment

Tundra : 3. Arnifah Sulaiman

Jakarta, 1985

Hari Rabu. Arnifah berjalan santai memasuki halaman sekolah. Ia sengaja datang pagi-pagi agar tidak terlambat. Hari ini hari ketiga ia bersekolah di sini. Sebelumnya ia sekolah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia pindah ke Jakarta ikut ayahnya yang pindah tugas. Waktu pertama masuk Senin kemarin ia diantar ayahnya naik mobil. Setelah itu Arnifah menolak untuk diantar lagi besoknya dan lebih memilih naik bus kota.

Suasana sekolah masih sepi. Arnifah langsung masuk ke kelasnya yang terletak di lantai 2, kelas Id. Ternyata ada seorang siswa cowok yang sedang menulis di bangku nomor dua dari belakang deretan pertama dari kanan. Arnifah berjalan menuju tempat duduknya yang berada di bangku nomor dua dari depan deretan kedua dari kanan.

Ketika menyadari ada yang masuk kelas, siswa cowok itu mengangkat kepalanya dan berhenti menulis. Ia tersenyum pada Arnifah. Arnifah membalasnya, lalu duduk di bangkunya sambil menghadap ke arah siswa cowok itu.

“Ada PR apa ……..?” tanya Arnifah dengan kalimat menggantung. Ia tidak tahu nama siswa cowok itu.

“Redi, nama gue Redi Satria,” ujar Redi memperkenalkan diri.

“Arnifah ‘kan,” ujar Redi lagi. Arnifah mengangguk.

“Nggak ada PR, cuma menyalin catatan Fisika,” sambung Redi lagi.

“Datangnya kok pagi-pagi sekali. Rumahnya jauh ya?” tanya Redi melanjutkan pembicaraan.

“Rumah gue di Fatmawati, takut terlambat aja makanya cepat-cepat datang. Siswa baru sih,” jawab Arnifah sekenanya.

Redi tersenyum geli mendengar jawaban Arnifah. Tak lama beberapa siswa mulai memasuki kelas. Tanti, teman sebangku Arnifah juga sudah datang. Begitu dia meletakkan tasnya, dia lalu mengajak Arnifah ke kantin untuk sarapan.

*****

Hari Sabtu. Pelajaran terakhir, Matematika, baru saja usai. Arnifah mengemasi buku-bukunya. Tadi ia punya rencana pulang sekolah akan ke toko buku bersama Tanti dan temannya, Rien, anak kelas Ie.

Di bagian belakang tiba-tiba ada kegaduhan. Beberapa siswa cowok mengelilingi bangku Redi dan menyalami Redi.

“Ada apa Tan, ada yang ulang tahun?” tanya Arnifah pada Tanti.

“Nggak. Redi mau pindah sekolah ke Medan. Ini hari terakhir dia sekolah di sini,” jawab Tanti. Arnifah tertegun sejenak.

“Eh, ayo buruan. Katanya mau ke toko buku, aku mau ke kelas sebelah, nyamperin Rien dulu ya,” ujar Tanti.

Arnifah mengangguk. Ia lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Tak lama Redi dan beberapa siswa cowok gangnya lewat di dekat bangku Arnifah. Redi menyalami beberapa siswa lain. Arnifahpun disalaminya.

“Maafkan bila ada kelakuan atau kata-kata gue yang salah ya,” ujarnya.

“Sama-sama,” ujar Arnifah lirih dan tersenyum. Padahal perasaannya sangat sedih.

Setelah menyalami Arnifah, Redi menemui beberapa siswa lain yang masih ada di kelas.

Arnifah lalu keluar kelas dan menunggu Tanti dekat tangga. Tak lama Redi keluar diikuti anggota gangnya. Redi kelihatan gembira dan tersenyum terus. Ketika melihat Arnifah dekat tangga, sekali lagi Redi tersenyum pada Arnifah. Arnifah membalasnya. Redi lalu menuruni tangga diiringi rekan-rekannya. Mungkin mereka mau mengadakan acara perpisahan. Arnifah memandang terus rombongan Redi sampai akhirnya mereka menghilang setelah melewati pintu gerbang sekolah.

“Sorry Ar, kelamaan ya nunggunya,” suara Tanti mengusik lamunan Arnifah.

“Nggak apa-apa, yok, kita berangkat sekarang,” seru Arnifah.

*****


Leave a comment

Tundra : 2. Harli Jatmiko

Medan, 1985

Harli sibuk menyiapkan buku-bukunya. Sebentar lagi ia mau berangkat bimbingan tes. Dari stasiun radio kesayangannya terdengar lagu “Maniac” Michael Sembello yang membuat dirinya bersemangat.

Tiba-tiba telepon berbunyi dari ruang tengah. Dengan tergesa-gesa Harli keluar kamar dan langsung mengangkatnya.

“Hallo Harli, kau masuk hari ini,” terdengar suara Taufik.

“Masuk, kau sendiri gimana?” tanya Harli.

“Nggak masuk, malas ‘kali aku. Absen dulu lah. Eh, nanti liburan semester kita jadi naik gunung?” tanya Taufik.

“Jadi, gunung Sinabung ‘kan. Atur sajalah, kau kan pecinta alam sejati,” ujar Harli.

****

Harli bersama gangnya mendirikan tenda di antara beberapa tenda yang mulai menyemarakkan daerah perkemahan di dekat danau Lau Kawar di bawah kaki gunung Sinabung. Dekat perkemahan ada juga sebuah warung kopi.

Malam pertama mereka berkemah hujan turun lebat sekali. Harli dan beberapa rekannya langsung menuju warung. Selain untuk makan, juga main catur dan main gitar. Di warung suasananya penuh sesak. Banyak juga orang yang tidur di lantai. Malah ada yang sampai tidur di bawah meja segala.

Keesokkan harinya Harli dan rekan-rekannya naik gunung di pagi hari. Pendakian awal memang agak sulit. Mereka naik memakai tali. Setelah itu mereka menemukan jalan setapak yang mempermudah pendakian. Beberapa kali Harli berpapasan dengan orang-orang yang baru turun. Mungkin mereka naik gunung subuh-subuh atau malam hari. Atau naik gunung sore hari dan bermalam di puncak gunung. Dari orang yang baru turun itu ada yang menyanyikan lagu “Tarzan Boy” Baltimora.

Sampai di puncak gunung hari sudah beranjak siang. Dari puncak gunung terlihat Danau Toba. Bau belerang tercium culup tajam. Harli merasa kehausan. Botol minuman yang dibawanya tadi sudah kosong. Sepanjang perjalanan ada saja rekannya yang minta minum. Lama-lama habis juga. Harli melihat beberapa orang sedang mengumpulkan embun-embun yang ada di tumbuhan di sekitar puncak gunung. Ia lalu ikut juga mengumpulkan embun-embun itu dan menampungnya di sebuah kantung plastik kecil. Setelah beberapa lama ada sedikit air yang terkumpul. Ia lalu meminumnya seteguk. Lalu Harli menawarkan air itu pada orang yang sedang mencari embun di sebelahnya. Orang itu menerimanya. Setelah meminumnya, orang itu memberikan Harli sekantung kecil biskuit.

“Dari SMA mana?” tanya Harli.

“SMA 8,” jawab orang itu.

“Aku dari SMA 6, Harli,” Harli memperkenalkan diri.

“Redi,” balas orang itu.

Ketika turun gunung rombongan Harli bertemu lagi dengan rombongan Redi. Selama perjalan turun Harli dan Redi asyik mengobrol. Harli suka juga lagu “Tarzan Boy” Baltimora, beberapa kali dia menyanyikan lagu itu. Bagus juga suaranya.

Malam hari Harli makan malam di warung. Kawan-kawannya ada yang masak mie instant di dekat tenda mereka. Cuma karena merasa lapar sekali Harli memutuskan untuk makan di warung. Seperti biasanya warung ramai sekali. Beberapa orang sedang bernyanyi diiringi suara gitar. Sebetulnya pemilik warung sering memutarkan lagu-lagu dari tape recorder-nya. Paling sering terdengar lagu penyanyi Jepang yang lagi hits “Kokoro No Tomo”.

Selesai makan Harli tidak langsung balik ke tenda. Ia duduk menonton orang-orang yang sedang main catur.

Ketika dilihatnya Redi sedang membeli rokok, Harli langsung mendekatinya. Redi memakai jaket tebal.

“Dingin sekali ya,” ujar Redi.

“Iya, aku kelupaan bawa jaket,” ujar Harli.

“Aku punya dua, kau boleh pakai satu yang satu lagi. Nanti kita ambil ke tendaku,” ujar Redi sambil membuka bungkus rokok dan mengambilnya sebatang. Lalu ia menyalakan dan mengisapnya.

“Yuk, kita ambil sekarang,” ujar Redi. Harli mengikuti langkah Redi. Suasana agak gelap. Untung saja Redi membawa senter kecil. Di tenda Redi, beberapa rekannya ada yang sudah tidur dan ada pula yang sedang masak mie instant sambil mengobrol. Redi mengambil jaketnya dan memberikan pada Harli. Harli langsung memakainya. Mereka lalu bergabung dengan rekan-rekan Redi yang sedang masak mie instant.

“Ada air panas nggak?” tanya Redi.

“Ada, tuh di termos, mau bikin kopi?” tanya salah seorang rekan Redi.

“Mau Har?” tanya Redi pada Harli.

“Boleh, untuk menghangatkan badan,” jawab Harli.

Setelah mengobrol dengan Redi dan rekannya, Harli balik ke tendanya. Jaket Redi sangat membantu sekali. Harli bisa tidur nyenyak sekarang.

*****

Medan, 1988

Tampang Harli sekilas mirip Charlie Sheen, aktor muda Hollywood. Redi sering memanggilnya Charlie. Cuma kalau Harli kulitnya sawo matang. Sejak pulang dari Lau Kawar Redi dan Harli sering bertemu dan pergi bersama. Hanya karena kesibukan masing-masing mereka sekarang jarang bertemu. Apalagi saat ini, menjelang ujian akhir sekolah dan menghadapi Sipenmaru. Harli sibuk dengan bimbingan tesnya.

Hari ini hari pertama ujian Sipenmaru. Harli satu rayon dengan Dion, teman sekelasnya di SMA. Mereka berdua datang pagi-pagi ke lokasi ujian di SMAN 8. Harli teringat pada Redi. Ini sekolahnya Redi. Sambil menunggu ujian dimulai Harli duduk-duduk di pinggir jalan berkumpul dengan beberapa orang peserta ujian dari berbagai sekolah.

Hari pertama ujian, Harli lalui dengan lancar. Pada hari kedua ujian mulai sulit. Harli sampai putar otak memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Selesai ujian Harli langsung keluar dan mencari Dion di ruang kelas sebelah. Setelah bertemu Dion, mereka lalu keluar sekolah dan berjalan menuju tempat naik sudaco.

“Bagaimana Har, isi semua nggak?” tanya Dion.

“Isi sih isi, benar nggaknya sih nggak tau,” jawab Harli.

“Jadi nggak yakin nih, berani nggak kau menyobek  kartu ujian kau,” tantang Dion.

“Nggak,” jawab Harli.

“Woi Harli, Dion!” teriak beberapa orang yang berjalan berombongan di belakang mereka. Harli dan Dion membalikkan badan. Ternyata orang-orang itu rekan sekolah mereka.

“Pasrah, pasrah. Nggak lulus!” seru Harli sambil menyobek brosur-brosur dan melemparkannya ke udara.

*****


Leave a comment

Tundra : 1. Fardin Hidayat

Medan, 1985

Terminal Sambu. Suatu Sabtu siang yang terik dan sudaco-sudaco yang berseliweran disertai asap knalpot yang menderu-deru. Rombongan murid SLTA pulang dan pergi mewarnai suasana terminal. Banyak juga murid sekolah yang nongkrong di emperan toko.

Termasuk Fardin, siswa STM yang berpenampilan sedikit urakan. Lengan baju dilipat, kerah baju dilepas, potongan rambut mirip rambut penyanyi Duran-Duran. Duduk-duduk dulu di terminal sebelum ke sekolahnya yang memang tidak begitu jauh dari terminal. Ia berkumpul bersama rekan-rekannya sambil melihat orang-orang yang lewat. Kadangkala bila mereka melihat rombongan siswi SMEA atau SMA yang lewat, terdengarlah suara-suara menggoda. Fardin ke sekolah tanpa membawa tas, hanya beberapa buku yang diselipkan di baju bagian belakang. Biasanya bila melihat ada rekannya yang membawa tas, bukunya dititipkannya.

Walaupun Fardin dan rekannya sering iseng menggoda orang lewat tidak sekalipun mereka terlibat tawuran dengan anak sekolah lain. Malah ada beberapa anak sekolah lain yang menjadi teman nongkrong mereka.

Fardin sedang duduk sambil merokok. Seorang siswa SMA berjalan mendekatinya. Penampilannya lumayan rapi.

“Bisa minta apinya?” tanya anak itu.

Fardin melihat anak itu dan memberikan rokoknya.

“Sekolah dimana?” tanya Fardin

“SMA 8,” jawab anak itu.

“Aku di STM 2,” ujar Fardin.

“Aku baru pindah ke sini, dulu tinggal di Jakarta,” ujar anak itu lagi sambil menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dikeluarkannya perlahan-lahan.

“Dulu sekolahku dekat terminal, sekarang juga nggak begitu jauh dari terminal,” lanjut anak itu sambil tertawa. Fardin ikut tertawa.

“Oh, iya, aku Fardin!”

“Redi!” 

Sejak perkenalan itu Fardin menjadi teman Redi. Bila Redi melihat Fardin dan rekan-rekannya sedang berkumpul, ia ikut bergabung sebentar.

Kebiasaan Fardin nongkrong di terminal sudah diketahui oleh bapaknya yang galak. Di suatu Minggu ketika Fardin sibuk mengutak-atik sepeda motornya, bapaknya yang sedang asyik membaca koran di teras rumah, tiba-tiba marah-marah.

“Kau bolos sekolah ya kemarin?” tanyanya.

“Siapa bilang, masuk kok Pak,” jawab Fardin.

“Gurumu pak Ahmad itu kawan Bapak, kemarin malam dia cerita kau nggak masuk,”

“Kemarin terlambat sih Pak, makanya nggak masuk,”

“Terlambat, terlambat. Masak terlambat sampai sepuluh orang, mau jadi apa kau nanti, bolos melulu. Mau jadi preman Sambu!”

Setelah puas kena dampratan bapaknya, Fardin pergi ke rumah Redi naik sepeda motor. Pada hari Kamis kemarin mereka janjian untuk mencari kaset di City Plaza, sekalian nonton film. Referensi musik Redi lumayan banyak sehingga Fardin mengajaknya untuk menemani mencari lagu-lagu yang sedang hits di radio.

Redi dan Fardin sudah sampai di City Plaza, jalan Surabaya. Suasana Plaza cukup ramai. Ketika mereka masuk ke Plaza, terdengar lagu “I Can not Believe It’s True” Phil Collins.

Mereka lalu naik eskalator ke lantai 2.

“Aku suka Phil Collins,” ujar Redi.

“Aku juga, eh kalau di Jakarta beli kaset yang lengkap dimana?” tanya Fardin.

“Biasanya aku ke Duta Suara jalan Sabang. Di sana koleksi kasetnya lumayan lengkap,” jawab Redi.

Di toko kaset, Fardin sibuk mencari kaset-kaset penyanyi kesukaannya. Selain Genesis dia suka Def Leppard, Black Sabath dan Toto. Rata-rata lagu rock. Redi mengajukan beberapa grup musik yang kira-kira sesuai selera Fardin.

“Duran-Duran suka nggak?” tanya Redi.

“Suka, saking ngefansnya gaya rambut Roger Taylor aku tiru, walaupun sikit. Keren nggak,” ujar Fardin.

Sementara itu berganti-ganti terdengar lagu Madonna, Cyndi Lauper dan Nina. Sekarang lagi ngetrend lagu-lagu pop dance dan new wave.

“Kalau aku sukanya lagu-lagu New Wave kayak Johnny Hate Jazz, Gazebo, Wham!” ujar Redi.

“Jadi nggak kita nonton, James Bond baru tuh, A View to a Kill,” tanya Fardin.

“Oke, habis nonton kita jalan-kalan keliling kota Medan ya,” ujar Redi.

“Bereslah!” seru Fardin.

Pulang nonton film, Fardin mengajak Redi jalan-jalan naik sepeda motornya. Mula-mula ke Mesjid Raya sekalian shalat, lalu ke Kolam Raja, terus menuju daerah Simpang Limun. Di jalan Brigjen Katamso mereka berhenti di depan Kebun Binatang Kampung Baru. Suasana sangat ramai sekali.

“Ramai juga ya bonbin di sini. Kalau di Jakarta sih ada juga Ragunan. Cuma aku sekali ke sana. Banyak orang pacaran,” ujar Redi sambil tertawa geli.

“Kau sudah punya pacar di Jakarta?” tanya Fardin.

“Belum sih,” jawab Redi.

“Biasanya anak SMA sana pacaran udah biasa,” celetuk Fardin.

“Ada sih yang aku taksir, dia murid baru pindahan dari daerah. Eh, baru sekali ngobrol sama dia, akunya yang malah pindah ikut bapakku pindah kerja ke sini,” jawab Redi sambil termenung.

*****


5 Comments

Porte des Lilas

 Il fait nuit. Huit heures et demie. J’arrive dans la rue Sabang. Beaucoup de monde là. Je cherce un petit kiosque près d’un lingerie. Il ne ferme pas. Un garçon assied à gauche de sa kiosque. Il sourit. Il prend un magazine et ouvre des pages.

“Cette histoire se deroulait ici?”

Je lis le titre.”Les Gens Ont Disparu”. C’est intéressant.

“Ça coûte combien?”

“Vingt mille.”

“Ça coûte cher! Je l’achetais quinze mille naturallement.”

“Non, le prix a augmenté à la mois dernier.”

“Voilà, je le prends. Merci.”

Tout de suite je lis l’article “Les Gens Ont Disparu”, quand j’attends mon dejeuner dans un restaurant au coin de la rue. Quand je mange, mon mobiliste sonne. Radi me telephone. Il doit me recontrer ce soir. Il y a quelque chose de parler avec moi. Je lui dis qu’il peut me voir au restaurant “Minuit” avant de neuf heures et demie.

Radi arrive tout de suite. Je ne sais pas ou il est en avant. Peut-être il est près de la rue Sabang. Je devine qu’il cherce les disques à “Duta Suara”. Comme d’habitude.

“Qu’est-ce qu’il y a?” , je lui demande.

“Ma mere va venir la semaine prochaine.”

“Oui, et la probleme?”

“Elle me fait de ne pas être content.”

“Pourquoi, ta mere est jentille.”

“Elle est tres bruyant, c’est catastrophe pour moi, il me fait fou.”

“Mon pauvre ami.”

Radi est un homme beau. Mais, sa visage est toujours triste. Je sais que sa famille avait beaucoup de probleme. Ses parent se sont séparés, sa mere a un cancer, sa soeur a séparé avec son mari et maintenant elle a marié encore. Radi deteste si nous demandons de son père. Il ne lui ai vu pas longtemps. Depuis il était petit.

“Qu’est-ce que tu lis?”, Radi me dit.

“Les gens ont disparu, c’est bizarre.”

“Peut-être, mais je sais qu’il ya un mistere là.”

“Où?”

“Là. À la ruelle noir entre des magasines.”

“Pourqoui?”

“Tu ne sais pas, il y a un homme qui s’habille la veste noire. Toujours la chaque après-midi.”

“Tu es sûr? Est-ce que tu peux le regarder passer par la fenêtre ton appartement?”

“Non, je n’ai pas le temps pour observer quelqu’un.”

Radi habite dans l’appartement près de la rue Sabang. Je sais qu’il ment. Radi a un télescope devant sa fenêtre. Il m’a dit qu’il aimait voir les étoiles à la soir.

“Comment tes voisins, toujours l’amour ou toujours bruyant?

“Ça depend, mais je ne veux pas le penser. J’ai beaucoup de probleme. Je n’ai pas le temps pour savoir leur problemes.”

“D’accord,” je regarde ma montre. Après de manger.

“Voilà, je voudrais rentrer chez moi, alors est-ce qu’on va dejeuner à demain?”

“Mais oui, je viendrai avec Vida, elle aime le salade, tu sais.” Radi dit.

(Continué)

(Oct 2, ’07 3:26 AM)


2 Comments

Backpacker… Jakarta – Yogyakarta – Surabaya

Pertama kali saya melakukan perjalanan sebagai seorang backpacker pada tahun 1994. Waktu itu sedang masa liburan kuliah. Bingung mau jalan-jalan kemana dengan biaya murah, iseng-iseng saya pergi ke Stasiun KA Senen, Jakarta Pusat. Setelah melihat jadwal kereta api dan harga tiket saya putuskan untuk pergi ke Yogyakarta dengan kereta api malam hari (lupa nama KAnya) dengan harga tiket Rp 7.000,-.

Pada hari-H saya pergi ke stasiun jam 19.00 WIB dengan membawa tas ransel. Namanya juga kereta api ekonomi penumpangnya ramai. Tapi ketika masuk ke gerbong kereta kelihatannya semua penumpang kebagian tempat duduk. Satu kursi panjang diduduki tiga orang. Kebetulan kursi saya dan kursi di depan saya semuanya ditempati laki-laki. Jadi agak nyaman sedikit daripada ada ibu-ibu yang bawa anak kecil. Bisa dibayangkan gerbong yang tanpa AC, pasti gerah. Biasanya kalau sudah gerah begitu anak kecil suka menangis.

Saya lupa persisnya jam berapa kereta api berangkat, mungkin sekitar jam 21.00 WIB. Kereta berjalan lambat dan ketika sampai di Stasiun Lemah Abang Bekasi keretanya berhenti lama, setelah itu berjalan lagi dan begitu sampai stasiun berikutnya berhentinya juga lama. Selama perjalanan orang-orang di dekat saya sibuk mengobrol dengan bahasa Jawa. Saya cuma mendengar saja bila ada kata-kata yang saya mengerti dan lucu saya ikut tertawa. Karena sudah larut malam saya lihat orang-orang di sekitar saya menggelar kertas koran di lantai. Setelah itu mereka mulai tidur bergeletak di lantai. Saya pun karena sudah mengantuk ikut menggelar kertas  koran dan tidur. Untung saja keamanan di kereta api tersebut cukup terjamin. Saya lihat ada beberapa petugas keamanan yang patroli dari gerbong satu ke gerbong yang lain.

Menjelang pagi kereta api hampir sampai di Yogyakarta. Saya dan orang-orang di dekat saya mengobrol, kali ini pakai bahasa Indonesia.  Salah satu bertanya : “Yogyanya dimana?”. Saya jawab : “Saya bukan orang Yogya, cuma jalan-jalan ke sini.” Dia tanya lagi : “Aslinya mana? Saya jawab : “Sumatera pak”.  Kata dia : “Lho bukan orang Jawa toh, tadi malam kok bisa bahasa Jawa.” Kata saya : “Nggak kok pak, saya nggak ngomong, cuma senyum aja kalo ada kata yang sudah umum terdengar.” 

Sampai stasiun Tugu Yogyakarta sekitar jam 06.00 WIB. Begitu turun kereta api saya langsung ke toilet umum untuk mandi. Selesai mandi terus pergi ke Jl. Malioboro sarapan pagi dan minum teh. Acara selanjutnya jalan-jalan keliling Malioboro, mampir ke Pasar Beringharjo. Terus jalan kaki menyusuri jalan-jalan di Yogya, tanpa peta. Habis itu siangnya balik lagi ke Jl. Malioboro. Mampir di Benteng Vredeburg yang kebetulan ada pameran seni. Sorenya pergi jalan-jalan ke Kraton Yogya dan shalat ashar di masjid yang ada di dekat Kraton. Setelah itu pergi ke stasiun Tugu pesan tiket kereta api ke Surabaya yang berangkat tengah malam. Kalau tidak salah namanya KA Gaya Baru. Harga tiketnya Rp 7.000,-.

Karena masih lama saya jalan-jalan lagi ke Jl. Malioboro. Di depan satu toko saya lihat ada turis bule sedang main catur sama seorang pedagang. Waktu itu suasana  Jl. Malioboro ramai, mungkin kebetulan masa liburan. Setelah capek mondar-mandir di Jl. Malioboro sekitar jam 22.00 WIB saya pergi ke stasiun Tugu. Masih dua jam lagi kereta api datang. Saya lihat ada juga orang yang tidur-tiduran di lantai stasiun. Akhirnya saya ikut tidur-tiduran juga. Ketika waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB saya bangun dan menunggu kereta api di peron. Ada beberapa turis backpacker asing yang juga sedang menunggu kereta api.

Tak lama kereta api Gaya Baru Malam tiba. Serentak penumpang naik ke gerbong dan sibuk mencari tempat duduk yang kosong. Saya sempat berebutan tempat duduk dengan seorang turis backpacker asing yang dari wajahnya sepertinya berasal dari Korea atau China. Untung saja ada dua tempat duduk yang kosong sehingga diantara kami berdua tidak ada yang berdiri. Turis backpacker itu duduk di kursi depan saya. Saya lihat dia membawa sebuah ransel besar dengan beberapa kantong plastik yang diikat dipinggangnya. Entah apa maksudnya diikat seperti itu mungkin biar tidak diambil orang. Beberapa deret kursi dari tempat saya duduk ada tiga turis backpacker bule. Dua pria dan satu wanita.

Di dalam kereta api ini saya lupa apa ada petugas keamanan yang patroli atau tidak. Setelah jalan beberapa lama tiba-tiba dari gerbong di belakang gerbong saya ada keributan. Rupanya ada ibu-ibu yang dompetnya hilang dari tasnya yang ditaruh di bagasi di atas tempat duduk. Beberapa orang ribut dan saling menuding orang lain yang mencuri dompet tersebut. Banyak orang yang berdiri di pertemuan antar gerbong. Yang ribut tersebut orang-orang yang berdiri disana. Ketika kereta api berhenti di suatu stasiun beberapa orang yang ribut tadi turun. Terus saya bilang sama mas-mas yang duduk di sebelah saya : “Jangan-jangan mereka komplotan lagi.” Kata si mas : “Jangan ngomong begitu, disini siapa tahu masih ada temannya.” Jadi seram juga. Ketika kereta api berhenti di stasiun berikutnya si mas yang duduk di sebelah saya itu turun. Timbul juga pikiran jelek saya jangan-jangan si mas itu masuk komplotan pencuri dompet tadi. Tapi untung saja malam itu tidak terjadi hal yang buruk. Suasana di gerbong sebelah juga mulai tenang kembali. Ibu-ibu yang kehilangan dompet kayaknya sudah pasrah saja.

Ketika menjelang pagi beberapa kursi sudah kosong sehingga saya pindah dan bisa tidur di kursi panjang di dekat tempat duduk turis backpacker bule. Sempat juga mengobrol sama mereka, katanya mau ke Gunung Bromo. Setelah mereka turun di suatu stasiun, gerbong semakin kelihatan kosong dan saya kembali tidur selonjoran. Pagi hari sekitar jam 7.00 kereta sampai di stasiun Gubeng. Singgah juga di toilet umum untuk mandi dan shalat shubuh di mushala stasiun. Keluar stasiun lalu saya berjalan ke depan RS Dr. Soetomo lalu tanya orang angkot ke kampus ITS. Saya ingin melihat kampus ITS dan mau ketemu teman yang kuliah di sana. Ternyata angkot yang saya naiki salah jurusan. Ketika sampai di perhentian terakhir supirnya tanya dimana saya turun. Akhirnya saya naik angkot lain dan berhenti di depan kampus ITS yang baru dibangun. Kampusnya sepi. Akhirnya saya kembali ke daerah sekitar stasiun Gubeng. Karena tidak ada kelihatan pasar atau pertokoan/mall dekat sana, saya putuskan kembali ke stasiun. Pesan tiket kereta api Surabaya – Jakarta. Harganya Rp 10.000,-.  Kereta api berangkat siang hari dan sampai di Jakarta malam hari.