Tundra

Friendship, Hope and Human Being

Backpacker… Jakarta – Yogyakarta – Surabaya

2 Comments

Pertama kali saya melakukan perjalanan sebagai seorang backpacker pada tahun 1994. Waktu itu sedang masa liburan kuliah. Bingung mau jalan-jalan kemana dengan biaya murah, iseng-iseng saya pergi ke Stasiun KA Senen, Jakarta Pusat. Setelah melihat jadwal kereta api dan harga tiket saya putuskan untuk pergi ke Yogyakarta dengan kereta api malam hari (lupa nama KAnya) dengan harga tiket Rp 7.000,-.

Pada hari-H saya pergi ke stasiun jam 19.00 WIB dengan membawa tas ransel. Namanya juga kereta api ekonomi penumpangnya ramai. Tapi ketika masuk ke gerbong kereta kelihatannya semua penumpang kebagian tempat duduk. Satu kursi panjang diduduki tiga orang. Kebetulan kursi saya dan kursi di depan saya semuanya ditempati laki-laki. Jadi agak nyaman sedikit daripada ada ibu-ibu yang bawa anak kecil. Bisa dibayangkan gerbong yang tanpa AC, pasti gerah. Biasanya kalau sudah gerah begitu anak kecil suka menangis.

Saya lupa persisnya jam berapa kereta api berangkat, mungkin sekitar jam 21.00 WIB. Kereta berjalan lambat dan ketika sampai di Stasiun Lemah Abang Bekasi keretanya berhenti lama, setelah itu berjalan lagi dan begitu sampai stasiun berikutnya berhentinya juga lama. Selama perjalanan orang-orang di dekat saya sibuk mengobrol dengan bahasa Jawa. Saya cuma mendengar saja bila ada kata-kata yang saya mengerti dan lucu saya ikut tertawa. Karena sudah larut malam saya lihat orang-orang di sekitar saya menggelar kertas koran di lantai. Setelah itu mereka mulai tidur bergeletak di lantai. Saya pun karena sudah mengantuk ikut menggelar kertas  koran dan tidur. Untung saja keamanan di kereta api tersebut cukup terjamin. Saya lihat ada beberapa petugas keamanan yang patroli dari gerbong satu ke gerbong yang lain.

Menjelang pagi kereta api hampir sampai di Yogyakarta. Saya dan orang-orang di dekat saya mengobrol, kali ini pakai bahasa Indonesia.  Salah satu bertanya : “Yogyanya dimana?”. Saya jawab : “Saya bukan orang Yogya, cuma jalan-jalan ke sini.” Dia tanya lagi : “Aslinya mana? Saya jawab : “Sumatera pak”.  Kata dia : “Lho bukan orang Jawa toh, tadi malam kok bisa bahasa Jawa.” Kata saya : “Nggak kok pak, saya nggak ngomong, cuma senyum aja kalo ada kata yang sudah umum terdengar.” 

Sampai stasiun Tugu Yogyakarta sekitar jam 06.00 WIB. Begitu turun kereta api saya langsung ke toilet umum untuk mandi. Selesai mandi terus pergi ke Jl. Malioboro sarapan pagi dan minum teh. Acara selanjutnya jalan-jalan keliling Malioboro, mampir ke Pasar Beringharjo. Terus jalan kaki menyusuri jalan-jalan di Yogya, tanpa peta. Habis itu siangnya balik lagi ke Jl. Malioboro. Mampir di Benteng Vredeburg yang kebetulan ada pameran seni. Sorenya pergi jalan-jalan ke Kraton Yogya dan shalat ashar di masjid yang ada di dekat Kraton. Setelah itu pergi ke stasiun Tugu pesan tiket kereta api ke Surabaya yang berangkat tengah malam. Kalau tidak salah namanya KA Gaya Baru. Harga tiketnya Rp 7.000,-.

Karena masih lama saya jalan-jalan lagi ke Jl. Malioboro. Di depan satu toko saya lihat ada turis bule sedang main catur sama seorang pedagang. Waktu itu suasana  Jl. Malioboro ramai, mungkin kebetulan masa liburan. Setelah capek mondar-mandir di Jl. Malioboro sekitar jam 22.00 WIB saya pergi ke stasiun Tugu. Masih dua jam lagi kereta api datang. Saya lihat ada juga orang yang tidur-tiduran di lantai stasiun. Akhirnya saya ikut tidur-tiduran juga. Ketika waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB saya bangun dan menunggu kereta api di peron. Ada beberapa turis backpacker asing yang juga sedang menunggu kereta api.

Tak lama kereta api Gaya Baru Malam tiba. Serentak penumpang naik ke gerbong dan sibuk mencari tempat duduk yang kosong. Saya sempat berebutan tempat duduk dengan seorang turis backpacker asing yang dari wajahnya sepertinya berasal dari Korea atau China. Untung saja ada dua tempat duduk yang kosong sehingga diantara kami berdua tidak ada yang berdiri. Turis backpacker itu duduk di kursi depan saya. Saya lihat dia membawa sebuah ransel besar dengan beberapa kantong plastik yang diikat dipinggangnya. Entah apa maksudnya diikat seperti itu mungkin biar tidak diambil orang. Beberapa deret kursi dari tempat saya duduk ada tiga turis backpacker bule. Dua pria dan satu wanita.

Di dalam kereta api ini saya lupa apa ada petugas keamanan yang patroli atau tidak. Setelah jalan beberapa lama tiba-tiba dari gerbong di belakang gerbong saya ada keributan. Rupanya ada ibu-ibu yang dompetnya hilang dari tasnya yang ditaruh di bagasi di atas tempat duduk. Beberapa orang ribut dan saling menuding orang lain yang mencuri dompet tersebut. Banyak orang yang berdiri di pertemuan antar gerbong. Yang ribut tersebut orang-orang yang berdiri disana. Ketika kereta api berhenti di suatu stasiun beberapa orang yang ribut tadi turun. Terus saya bilang sama mas-mas yang duduk di sebelah saya : “Jangan-jangan mereka komplotan lagi.” Kata si mas : “Jangan ngomong begitu, disini siapa tahu masih ada temannya.” Jadi seram juga. Ketika kereta api berhenti di stasiun berikutnya si mas yang duduk di sebelah saya itu turun. Timbul juga pikiran jelek saya jangan-jangan si mas itu masuk komplotan pencuri dompet tadi. Tapi untung saja malam itu tidak terjadi hal yang buruk. Suasana di gerbong sebelah juga mulai tenang kembali. Ibu-ibu yang kehilangan dompet kayaknya sudah pasrah saja.

Ketika menjelang pagi beberapa kursi sudah kosong sehingga saya pindah dan bisa tidur di kursi panjang di dekat tempat duduk turis backpacker bule. Sempat juga mengobrol sama mereka, katanya mau ke Gunung Bromo. Setelah mereka turun di suatu stasiun, gerbong semakin kelihatan kosong dan saya kembali tidur selonjoran. Pagi hari sekitar jam 7.00 kereta sampai di stasiun Gubeng. Singgah juga di toilet umum untuk mandi dan shalat shubuh di mushala stasiun. Keluar stasiun lalu saya berjalan ke depan RS Dr. Soetomo lalu tanya orang angkot ke kampus ITS. Saya ingin melihat kampus ITS dan mau ketemu teman yang kuliah di sana. Ternyata angkot yang saya naiki salah jurusan. Ketika sampai di perhentian terakhir supirnya tanya dimana saya turun. Akhirnya saya naik angkot lain dan berhenti di depan kampus ITS yang baru dibangun. Kampusnya sepi. Akhirnya saya kembali ke daerah sekitar stasiun Gubeng. Karena tidak ada kelihatan pasar atau pertokoan/mall dekat sana, saya putuskan kembali ke stasiun. Pesan tiket kereta api Surabaya – Jakarta. Harganya Rp 10.000,-.  Kereta api berangkat siang hari dan sampai di Jakarta malam hari.

2 thoughts on “Backpacker… Jakarta – Yogyakarta – Surabaya

  1. KA ekonomi progo,,,murah meriah. Dulu Rp 7000 ya. Skrg dah Rp. 35.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.